Selasa, 02 Oktober 2012

Teori-Teori Belajar Awal

Nama Anggota:
Imam Damara        09-032
Ichsan Syah Lubis  10-011
Arief Tri Prabowo  10-118


Pada BAB ini kita akan membahas mengenai teori-teori belajar yang muncul pada abad ke 20-an hingga berkembang. Disetiap masa, sains adalah hal-hal yang dihasilkan oleh riset, dan riset tidak lain adalah metode efektif yang telah ditemukan dan sesuai dengan zamannya. Setiap langkah dalam kemajuan sains atau ilmu pengetahuan akan bergantung pada langkah sebelumnya. dan proses ini tidak bisa dipercepat dengan hanya berharap (boring, 1930) 

Behaviorisme dan Koneksionisme
Behaviorisme dan Koneksionisme menjadi aliran dominan dari 1920-an hingga 1950-an, namun ia tidak sepenuhnya bebas dari kritikan tokoh lainnya. Pendapat yang menentangnya yakni psikologi Gestalt yang menekankan pada pentingnya persepsi pemelajar dalam situasi pemecahan masalah dan karenanya ia membahas persoalan kognitif.
Dalam Behaviorisme ada beberapa hal yang penting, yakni :
  1. Hal yang menjadi fokus studi ialah perilaku yang tampak atau yang bisa diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
  2. Perilaku tersebut harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik) dan perilaku bisa diajarkan berdasarkan pengkondisian.
  3. Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran tersebut.
Dari dasar Behaviorisme tersebut ada beberapa tokoh yang membahas dan melakukan berbagai riset dalam menelaah teori ini. Adapun tokoh-tokoh tersebut seperti Ivan Pavlov, B. F. Skinner, John B. Watson, Albert, dll.
Dalam teori Behaviorisme terdapat juga suatu aliran yang mana aliran tersebut merujuk pada teori Behaviorisme, yakni Koneksionisme yang dipopulerkan oleh Edward Thorndike. Teori ini berbeda dengan pengkondisian klasik dalam dua hal, yaitu : pertama Thorndike tertarik dengan proses mental, dan kedua melakukan riset reaksi refleks atau tidak sukarela, Thorndike meneliti perilaku mandiri atau sukarela. 
Psikologi Gestalt 
Psikologi Gestalt merupakan teori yang menentang teori Behaviorisme. Teori ini berfokus pada pengalaman persepsi, dengan pendiri psikologi Gestalt adalah Max Wertheimer. Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa : (a) ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana, (b) proses ini konstruktif karena individual sering mentransformasikan input visual yang tidak lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas. (Lehar, 2003, h. 51).
Teori ini diasumsikan berdasarkan, yakni : (1) perilaku bersifat molar, (2) individu memahami aspek dari lingkungan sebagai organisasi stimuli, dan merespon berdasarkan persepsi tersebut, (3) selanjutnya organisasi atau susunan dari stimuli di lingkungan itu sendiri adalah sebuah proses, dan proses ini mempengaruhi persepsi individu.
Dilhat berdasarkan masing-masing asumsi teori Behaviorisme dan Gestalt terjadi berbagai perbedaan yang mendasar didapat. Adapun perbedaan tersebut ialah :
  1. Teori Gestalt berpendapat bahwa yang harus dipelajari adalah perilaku molar bukan perilaku molekular.
  2. Teori Gestalt berfokus pada pengalaman persepsi sedangkan teori Behaviorisme berfokus pada  perilaku yang bisa diamati.

0 komentar:

Poskan Komentar