Senin, 22 Oktober 2012

Psikologi Kognitif : Pembahasan Jurnal Berkaitan dengan Pemrosesan Informasi

EFEK REDUNDANSI: DESAIN PESAN MULTIMEDIA DAN TEORI PEMROSESAN INFORMASI



Review Jurnal
Latar Belakang
Mempresentasikan teks secara simultan dalam bentuk tulisan dan audio merupakan hal yang umum dalam presentasi-presentasi multimedia. Demikian pula mempresentasikan pesan dengan visual yang sangat menarik (seduktif) merupakan hal yang lumrah dalam presentasipresentasi multimedia instruksional. Seringkali dianggap bahwa mempresentasikan materi dengan format desain pesan seperti itu menguntungkan bagi pemerolehan pemahaman. Tampaknya, asumsi bahwa presentasi simultan dari teks tertulis dan lisan itu menguntungkan mungkin berlebihan; demikian halnya presentasi dengan visual yang sangat menarik mungkin membahayakan (Pranata, 2003).

Tinjauan Teoritis
1.    Multimedia Instruksional
Multimedia didefinisikan dengan berbagai macam cara. Pranata (2004) meringkas beberapa definisi tersebut. McCormick, misalnya, mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen desain pesan yaitu suara, gambar, dan teks; Turban mendefinisikannya sebagai kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output data audio (suara, musik), animasi, video, teks, grafik, dan gambar. Sementara itu, Rosch mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari komputer dan video. Definisi multimedia yang bertolak dari aspek desain pesan antara lain digunakan untuk menjelaskan multimedia menurut tinjauan instruksional yaitu “the capability to present video, audio, and animation, as well as computer graphics and text, all on the same computer monitor at the same time.” (Merrill 1996:151).
Dalam konteks pendesainan pesan multimedia instruksional terdapat beberapa teori yang berbeda. Pertama, teori yang berfokus pada pentingnya upaya meningkatkan daya tarik desain pesan agar dapat memperbesar efek perhatian. Kedua, berfokus pada perangkapan elemen desain pesan agar dapat memperbesar peluang dicapainya pemahaman. Ketiga, berfokus pada pemrosesan dan kapasitas memori kerja agar diperoleh hasil belajar yang efektif.

2.    Teori Pemrosesan Informasi
Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam  memori jangka panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi.
Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.

3.    Efek Redundansi
Presentasi multimedia seringkali menampilkan elemen-elemen verbal secara berlebihan (redundant); disamping penjelasan dipresentasikan oleh gambar penjelasan juga dibarengi secara teks audio sekaligus teks tulis, bahkan label-label. Presentasi redundan seperti itu, menurut penganut teori redundansi, diarahkan untuk menghadapi noise serta menyediakan varian bentuk pesan dalam proses komunikasi agar informasi yang disampaikan dapat diterima secara lebih baik. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa “information as only those symbols that are uncertain to the receiver” (bandingkan Saul, 2001:3). Karena tidak seluruhnya informasi yang disampaikan akan dapat ditangkap dengan baik oleh penerima maka diperlukan perangkapan pesan (Shannon dalam Saul, 2001). Pengulangan yang superflous dimaksudkan untuk memudahkan penerima menangkap informasi sesuai dengan kebiasaannya dalam mengkode stimulus-stimulus pesan (bandingkan Stokes, 2003; Wilson & Cole, 1996).
Asumsinya, desain pesan seperti ini berpotensi untuk menjangkau seluruh audiens yang memiliki keragaman keterampilan dan kebiasaan dalam mengkode stimulus-stimulus desain pesan (Deubel,2003). Banyak studi yang telah dilakukan menemukan bahwa presentasi desain pesan paduan elemen visual Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan.

Simpulan
Teori muatan kognitif menyatakan bahwa hanya sedikit elemen informasi yang dapat diolah dalam memori kerja setiap saat. Terlalu banyak elemen bisa sangat membebani memorikerja sehingga menurunkan keefektifan pengolahan informasi. Jika penerima diharuskan untuk membagi perhatian mereka di antara, dan mengintegrasikan secara mental dua atau lebih sumber informasi yang berkaitan (misalnya teks dan diagram) proses ini mungkin menempatkan suatu ketegangan yang tak perlu pada memori kerja yang terbatas dan menghambat pemerolehan informasi. Menyajikan sejumlah sumber informasi secara simultan, bahkan di dalam format yang terintegrasi (contoh: diagram dan teks yang diintegrasikan secara fisikal), tidak selalu bisa efektif, khususnya jika beberapa informasi yang akan diolah itu tidak diperlukan dan berlebihan.
Jika informasi yang berlebihan itu diintegrasikan dengan informasi yang esensial, maka tidak ada pilihan lain selain memprosesnya (contoh: teks tak diperlukan yang menyertai diagram yang sudah komplit dan mudah dimengerti). Redundansi ini menimbulkan beban kognitif tambahan yang mengganggu proses pemahaman. Tambahan-tambahan elemen auditori yang berlebihan dapat melebihi kapasitas channel auditori sehingga elemen tambahan apa pun (termasuk kata-kata, efek-efek suara, dan ilustrasi musik) yang tidak diperlukan untuk membuat informasi mudah dimengerti atau yang tidak terintegrasi dengan materi-materi utama akan menurunkan kapasitas memori kerja yang efektif dan karenanya mempengaruhi proses pemahaman dari materi-materi terpenting. Karena materi terpenting yang diseleksi bagi pengolahan lebih lanjut menjadi lebih sedikit, maka hasilnya adalah performansi yang lebih buruk.
Jadi, ketika penerima memfokuskan kapasitas pengolahan auditori mereka yang terbatas itu pada penerimaan materi auditori yang didapat, mereka memiliki sedikit sisa kapasitas untuk mengkonstruksi representasi-representasi yang lain sehingga akan terjadi performansi yang lebih jelek. Setiap memori kerja, visual maupun verbal, memiliki kapasitas yang terbatas. Karena itu ketika informasi visual dan verbal dalam bentuk teks ditampilkan ada kemungkinan memori kerja visual tidak dapat menampung semua informasi sehingga akan ada informasi yang hilang. Hal yang sama mungkin terjadi ketika sumber informasi verbal dalam bentuk auditorial ditampilkan berbarengan dengan bentuk teks visual. Tetapi jika informasi visual ditampilkan secara visual dan informasi verbal ditampilkan secara auditorial maka akan terbuka kesempatan memori kerja visual dan verbal bekerja bersama sehingga penerima lebih mudah menyusun kode-kode teks karena informasi ditangkap secara maksimal.
Akibatnya, performansi penerima desain pesan yang terakhir ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan penerima yang mengalami efek redundansi (periksa Sweller, van Merrienboer & Paas, 1998; Sweller, 1994; Kalyuga, Chandler & Sweller, 2000).

Pembahasan
Pemberian informasi secara redundansi kurang efktif bagi penerima informasi. Karena efek redundansi ini memberikan informasi secara berlebihan bai tulis, gambar, audio, dan lainnya secara bersamaan. Sehingga penerima informasi akan mengalami kesulitan dalam memahami informasi, sedangkan memori kerja itu memiliki keterbatasan. Menurut Miller (1956), mendeskripsikan kapasitas sebagai “tujuh plus atau minus dua”. Cowan (2000), menyatakan mungkin hanya empat berkas, plus atau minus satu.  Dan setiap informasi akan di kodekan oleh penerima informasi agar lebih mudah dalam mempertahankan dalam memori jangka panjang dan mudah dalam mengamil lagi nanti jika dibutuhkan.
Dempster (1996), pemrosesan materi teks mengindikasikan bahwa presentasi yang diberi jeda selama periode waktu tertentu hampir dua kali lipat efektif dengan dua presentasi massal yang hanya diberi jeda selama beberapa jam. Ini bisa dikatakan mirip dengan efek redundasi dimana akan lebih baiknya informasi yang diberikan tidak berlbihan sehingga akan mudah dalam melakukan pengkodean.
Ketika dalam pengkodean saja mengalami kesulitan maka dalam pengambilan kembali informasi juga tidak efektif, dimana menurut Belleza (1996), harus ada 3 kriteria dalam melakukan pengambilan informasi kembali yakni, 1. Petunjuk harus reliabel, yaitu mudah dimunculkan pada saat pengingatan, 2. Harus mudah dikatikan dengan informasi baru yang akan dipelajari, 3. Petunjuk-petunjuk itu harus berbeda satu sama lain dana dapat diidentifikasi perbedaannya.
Dari teori ini menujukkan efek redundasi tidak efektif karena dalam ketiga kriteria ini tidak berjalan sesuai. Efek redundasi tidak memberikan petunjuk yang reliabel, sulit untuk mengkaitkan dengan informasi baru, dan sulit untuk mengidetifikasi perbedaan karena terlalu banyak informasi yang diberikan secara bersamaan.Ini menunjukkan bahwa ketika penerima informasi menerima informasi yang berlebihan secara bersamaan, maka penerima informasi akan terbebani dan akibatnya kebingungan atau lupa (h.354).

2 komentar:

uii profile mengatakan...

saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
terimakasih ya infonya :)

10.011ichsan mengatakan...

iya, terima kasih. semoga bermanfaat.

Poskan Komentar